
Rabies merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena memiliki risiko tinggi menyebabkan kematian, terutama jika virus telah menyebar hingga ke otak. Oleh sebab itu, penanganan harus dilakukan secepat mungkin, bahkan sebelum gejala muncul. Semakin cepat tindakan diberikan, maka semakin besar peluang untuk mencegah infeksi yang fatal.
Kategori Luka pada Risiko Rabies
Penanganan rabies dilakukan berdasarkan tingkat risiko luka akibat gigitan atau cakaran hewan. Secara umum, kategori luka dibagi menjadi tiga, yaitu:
- Kategori risiko rendah, yaitu luka ringan yang hanya memerlukan pembersihan menyeluruh dengan cairan desinfektan
- Kategori risiko sedang, yaitu luka yang memerlukan pembersihan serta pemberian vaksin rabies
- Kategori risiko tinggi, yaitu luka yang membutuhkan penanganan lengkap berupa pembersihan luka, vaksin rabies, dan serum antirabies
Dengan demikian, penanganan yang tepat akan sangat bergantung pada tingkat keparahan luka serta kemungkinan paparan virus rabies.
1. Pembersihan Luka sebagai Pertolongan Pertama
Langkah pertama yang sangat penting adalah membersihkan luka sesegera mungkin. Proses ini bertujuan untuk mengurangi jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh.
Berikut langkah yang perlu dilakukan:
- Cuci luka dengan sabun antiseptik dan air mengalir selama minimal 15 menit
- Setelah itu, oleskan antiseptik seperti povidone iodine
- Jika diperlukan, dokter akan memberikan serum antirabies langsung pada area luka
Pembersihan luka yang tepat dapat secara signifikan menurunkan risiko infeksi, sehingga tidak boleh dilewatkan.
2. Serum Antirabies (HRIG)
Serum antirabies atau human rabies immune globulin (HRIG) diberikan untuk memberikan perlindungan langsung sebelum tubuh membentuk antibodi sendiri.
Pemberian serum ini dianjurkan terutama pada kondisi berikut:
- Pasien belum pernah mendapatkan vaksin rabies sebelumnya
- Memiliki luka dengan kategori risiko tinggi
- Mengalami lebih dari satu gigitan
- Gigitan terjadi di area sensitif, seperti kepala, leher, atau tangan
- Memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, misalnya akibat HIV atau penggunaan obat imunosupresan seperti rituximab
- Digigit oleh hewan yang telah terkonfirmasi rabies
Selain itu, serum antirabies biasanya diberikan bersamaan dengan dosis pertama vaksin rabies. Tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan segera sambil menunggu respons imun tubuh terbentuk.
3. Vaksin Rabies dan Post-Exposure Prophylaxis (PEP)
Vaksin rabies mengandung virus yang telah dilemahkan, sehingga mampu merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan antibodi tanpa menyebabkan penyakit.
Vaksin ini dapat diberikan dalam dua kondisi, yaitu:
- Sebagai pencegahan (pre-exposure) pada individu dengan risiko tinggi, seperti dokter hewan
- Sebagai penanganan setelah paparan (post-exposure prophylaxis/PEP) pada orang yang tergigit atau tercakar hewan berisiko
Jadwal Vaksin Rabies (PEP)
a. Pada pasien yang belum pernah vaksin:
- Dosis pertama: segera setelah tergigit (disertai serum antirabies)
- Dosis kedua: hari ke-3
- Dosis ketiga: hari ke-7
- Dosis keempat: hari ke-14 hingga ke-28
b. Pada pasien yang sudah pernah vaksin:
- Dosis pertama: segera setelah tergigit
- Dosis kedua: hari ke-3
Dengan jadwal ini, tubuh akan membentuk perlindungan optimal terhadap virus rabies.
Kesimpulan
Pengobatan rabies harus dilakukan dengan cepat dan tepat, karena penyakit ini hampir selalu berakibat fatal jika tidak ditangani sejak dini. Oleh karena itu, langkah utama yang harus dilakukan meliputi pembersihan luka, pemberian serum antirabies pada kasus tertentu, serta vaksinasi rabies sesuai kategori risiko.
Leave a Reply